Menarik!! Obat Herbal itu, Kawan atau Lawan?

INRadio Rabu 2017-03-01 Kesehatan, Soman
img

Menarik. Kiprah obat herbal untuk pengobatan diabetes melitus (DM) lagi “hot” diperbicangkan oleh para dokter, akademisi, dan ahli kesehatan. Hal itu tercermin dari apa yang saya dapat dari seminar kesehatan “Peranan Complementary And Alternative Medicine Dalam Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus Tipe 2” yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumatera Utara, pada 25 Februari 2017 lalu.

Peran obat herbal kini mulai diperhitungkan. Sebagai seorang ahli gizi, saya setuju bahwa kita (sejawat kesehatan) tidak boleh mengesampingkan obat herbal untuk pembantu pengobatan penyakit kencing manis.

Seminar ini makin menarik karena menghadirkan orang-orang hebat antara lain : Prof. dr. Aznan Lelo, Ph.D., Sp.FK., Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., Peneliti dari Universitas Gadjah Mada,   drg. Santi Syafril, SpPD-KEMD, FINASIM., Staf Divisi Endokrin Metabolik Rumah Sakit Adam Malik, Medan., dr. M. Bastanta Taringan SpPD, K-EMD, serta 600 dokter umum dan spesialis penyakit dalam.

Dalam diskusi tersebut, disebutkan bahwa penderita diabetes dunia naik menjadi 422 juta jiwa. Tak heran, darurat diabetes pun mulai dikumandangkan. Tahun 2030, pasien diabetes di Tanah Air akan meledak hingga 21,3 juta jiwa. Luar biasa….

Staf Divisi Endokrin Metabolik Rumah Sakit Adam Malik, Medan, drg. Santi Syafril, SpPD-KEMD, FINASIM., mengatakan bahwa satu dari sebelas orang di dunia menurut Laporan International Diabetes Federation  (IDF) 2015 mengidap DM, sedangkan pada tahun 2040 mendatang kondisinya berubah menjadi satu dari sepuluh orang di dunia akan terkena DM.

Laporan IDF 2015 itu juga mencatat posisi Indonesia yang berada diurutan ketujuh sebagai negara dengan jumlah DM terbesar di dunia (usia 20-79). Pada tahun 2040 nanti, peringkat Indonesia akan merangkak ke posisi enam setelah Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brasil, dan Meksiko.

Di Tanah Air 90% pasien kencing manis terdiagnosa DM tipe 2. Ironinya, 77% di antaranya tidak menyadari bahwa mereka mengidap DM. Ketidaktahuan inilah yang berisiko menyebabkan komplikasi. Direktur Utama PT Harvest Gorontalo Indonesia, M. Yamin Lahay, S.Si., Apt., menguraikan,ongkos ekonomi akibat diabetes di Indonesia yang harus ditanggung pemerintah mulai dari 2006 – 2015 mencapai Rp 800 triliun.

Data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga mencatat, pasien DM menguasai 30% dari seluruh klaim atau mencapai Rp 20 triliun pada tahun 2016. Dengan berbagai penyakit ikutan tersebut, diabetes bisa dikatakan adalah penyakit berbiaya mahal.

Ada beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk DM tipe 2. Pasien juga mungkin diberikan kombinasi dari dua jenis obat atau lebih untuk mengendalikan kadar gula darah, antara lain; metformin, sulfonylurea, pioglitazone, gliptin, agonis, acarbose, dan insulin. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang mencakup terapi non-obat dan terapi obat. Pengidap DM juga harus selalu mengkonsumsi obat untuk menstabilkan kadar gula darahnya.

Di sisi lain, penggunaan obat herbal sebagai alternatif penyembuhan penyakit semakin meningkat di Indonesia karena sebagian besar masyarakat berpendapat bahwa obat herbal tidak mempunyai efek samping. Tapi ironinya, kenapa obat herbal tidak cukup “bersahabat” bagi kalangan dokter untuk diresepkan ke pasien diabetes?

Paparan materi dari salah satu finalis Kick Andy Hero sekaligus Guru Besar Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU),   Prof. dr. H. Aznan Lelo, Ph.D., SpFK., mengatakan bahwa tren penggunaan obat herbal untuk pengobatan di Amerika dan Eropa meningkat tajam. Namun, untuk kondisinya di Indonesia tidak demikian. “Obat Herbal, Kawan atau Lawan?” kata Prof. dr. Aznan ke para dokter.

Secara garis besar, Prof. Aznan berpendapat,obat herbal banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia namun kurang diterima dikalangan dokter. Hal itu disebabkan karena adanya keterbatasan dalam penulisan resep untuk sediaan jadi, sementara obat herbal tersedia dalam berbagai bentuk dan memerlukan pengolahan atau peracikan tersendiri sebelum digunakan.

Kebebasan masyarakat menggunakan obat herbal perlu diwaspadai oleh karena obat herbal tidak luput dengan efek yang merugikan, belum lagi interaksinya bila diberikan bersamaan dengan obat modern atau sedia jadi, obat herbal lainnya atau dengan makanan sehari-hari.

Menurutnya, upaya pemerintah untuk menggalakkan penggunaan obat herbal perlu ditunjang dengan penyebaran informasi lengkap dari obat herbal tersebut berikut dengan bukti klinis yang teruji. Bagi sejawat yang faham dan yakin dengan keunggulan obat herbal dapat memberitahukan kepada pasiennya dengan informasi yang jelas, sehingga pasien benar dalam menggunakan dan memperoleh manfaatnya umum dan spesialis penyakit dalam.

Untuk itu, pemilihan produk kesehatan khususnya obat herbal yang berkualitas dan teruji mutlak diperlukan agar konsumen merasakan khasiat obat herbal. Saat ini banyak obat herbal dipasaran yang mengklaim mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit secara instan, tanpa diketahui bahan baku, proses pengolahan, dan uji ilmiah.

Salah satu obat herbal untuk diabetes yang kini menjadi sorotan adalah Sozo Formula Manggata 1 (SoMan). Tidak mau kalah untuk unjuk gigi bahwa obat herbal juga bisa diperhitungkan, SoMan telah mengantongi hasil uji klinik diabetes di Universitas Gadjah Mada.

Tim Ketua Peneliti SoMan dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt., menjelaskan, terdapat pengelompokkan obat obat tradisional di Indonesia, yaitu : (1) jamu; (2) obat herbal terstandar; dan (3) fitofarmaka.

Peserta seminar (dokter umum & spesialis penyakit dalam)

Sozo Formula Manggata 1 (SoMan) adalah produk kesehatan yang masuk dalam kategori jamu di mana menggunakan 39 bahan alam seperti 18 macam buah, 12 sayur-sayuran, dan 9 aneka rempah terpilih yang direkomendasikan untuk meningkatkan sistem imun dan membantu pemulihan kesehatan, termasuk salah satunya adalah membantu menurunkan kadar gula darah.

Pengujian SoMan dilakukan di Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mulai bulan Desember 2015 hingga Mei 2016. Dalam pengujiannya, Tim Peneliti melibatkan pasien DM tipe 2 (yang tidak tergantung insulin) di mana metode penilitiannya berupa randomized controlled trial, double blind, consecutive sampling, dan random allocation.

Kriteria sampel pengujian meliputi ; pasien DM, usia 35-60 tahun, pria dan wanita, pasien dengan kadar gula darah lebih dari 126 mg/dL, pasien dengan HbA1C lebih dari 7%, pasien yang menggunakan antidiabetes metformin.

Selama pengujian berlangsung, sampel penilitian dikelompokkan menjadi dua yakni;

·  Kelompok yang diberi SoMan dan Metformin

·  Kelompok yang tidak diberi SoMan (Plasebo) dan Metformin

Penggunaan Jamu Tetes SoMan dengan dosis 10 tetes 3 kali sehari selama 3 bulan yang dikombinasikan dengan metformin menunjukkan penurunan FPG yang signifikan dibandingkan dengan kombinasi plasebodan metformin.

Dalam pengujian tersebut juga didapatkan hasil di mana sampel penelitian merasakan perbaikan penyakit penyerta. Misalnya, tidak mudah lelah, tidak lagi kesemutan, BAB lancar, nyeri tumit berangsur berkurang, merasa fit dan daya tahan tubuh membaik, tidak mudah merasa kantuk.

Dokter I Ketut Widana, M.App., Sc., perwakilan dari SoMan menambahkan, SoMan akan memberikan nutrisi pada sel-sel beta pankreas agar regenerasi sel beta pankreas berjalan optimal dan terjadi perbaikan pada sel yang rusak. Setelah terjadi proses perbaikan, SoMan juga akan merangsang sel beta prankreas untuk menghasilkan insulin yang berkualitas dan cukup untuk mengendalikan gula darah. Setiap tetesnya mengandung senyawa yang langsung ke sumber masalah dan bekerja secara farmakologi di dalam tubuh. Jadi, obat herbal kawan atau lawan?

oleh : Pramesti Nindyaningrum, AMG., S.Sos

;
close
iklan kiri
close
iklan kanan