MEREBAHKAN TIANG AYU AKHIRI ERAU ADAT KUTAI

INRadio Selasa 2016-08-30 Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura secara resmi mengakhiri pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folklore Art Festival (EIFAF) 2016, dengan prosesi merebahkan Tiang Ayu, yang merupakan salah satu barang pusaka kesultanan Kutai Kartanegar
img

INRADIO, Tenggarong - Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura secara resmi mengakhiri pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folklore Art Festival (EIFAF) 2016, dengan prosesi merebahkan Tiang Ayu, yang merupakan salah satu barang pusaka kesultanan Kutai Kartanegara.

Upacara Sakral itu berlangsung di Ruang Stingkil Keraton, tetapnya di Museum Mulawarman, Tenggarong, Kutai Kartanegara, pada Senin (29/8/16) pagi kemarin, yang dihadiri oleh Wakil Bupati Kukar, Edi Damansyah, Dandim 0906 Tenggarong, Camat Tenggarong, Mulyadi serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Menurut seorang Kerabat Sultan, Adji Pangeran Haryo Kusomo Puger, Sebelum pelaksanaan Erau Adat Kutai terlebih dahulu dilaksanakan upacara ritual mendirikan Tiang Ayu, berupa tongkat sepanjang 2 meter,  yang hanya diperlihatkan atau dipakai saat prosesi-prosesi sakral kesultanan, salah satu diantaranya untuk mengawali setiap pelaksanaan Pesta Adat Erau, untuk meminta restu serta keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Puncak kegiatan Erau Adat Kutai dan International Folklore Art Festival (EIFAF) 2016 ini sendiri, berlanngsung selama 8 hari di mulai sejak 20 hingga 28 Agustus 2016, namun di akhiri dengan Upacara Ngulur Naga serta belimbur dan Merabahkan Tiang Ayu di Keraton", Terangnya kepada media ini.



Adji Pangeran Haryo Kusomo Puger menambahkan, Selesai merebahkan Tiang Ayu dilanjutkan dengan pembacaan doa serta bersilaturahmi antara Sultan dan para tamu undangan. Ia juga berharap,  agar Erau Adat Kutai dan International Folklore Art Festival tahun ini, mendapat rahmat hingga keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Dengan dilaksanakannya Merebahkan Tiang Ayu ini, Erau Adat Kutai resmi berakhir, semoga kita masih dipertemukan kembali tahun depan, dan diharapkan kepada masyarakat kutai untuk selalu menjaga serta melestarikan kebudayaan Kesultanan sebagai warisan Leluhur terdahulu, agar di kenal di mata dunia," tutupnya.(Hendra.ds)
 

;
close
iklan kiri
close
iklan kanan